Feeds:
Tulisan
Komentar

Itulah sapaanku dipagi hari yang dingin. Walaupun masih sedikit orang yang menyadarinya, namun aku sangat senang bisa mengucapkannya. Ya. 23 juli diperingati sebagai hari anak nasional. Tentu saja si 32 bulan itu hanya menatap bingung, namun ia lekas tersenyum setelah deretan ciuman mendarat dipipinya yang ranum. Gemass sekali!

 

Entah sudah berapa kali negeri ini merayakan hari jadinya anak-anak Indonesia. Toh, tetap saja masih begitu banyak anak-anak yang hidup tidak sebagaimana laiknya anak-anak. Ahh, sering kita dengar anak-anak sebagai komoditas bisnis, ditelantarkan, didzalimi, yang semuanya tidak saja dilakukan oleh orang lain melainkan oleh keluarga termasuk orang tuanya sendiri.

 

Faktanya, pandangan dan pendengaran kita masih belum lepas dari nyanyian anak-anak jalanan, tetesan tangis anak-anak yang menjadi kuli-kuli berat, maraknya penculikan anak, merajalelanya perdagangan anak, rintihan jeritan anak-anak yang disiksa sebagai bentuk pelampiasan amarah orang tuanya, dan beribu penderitaan lainnya anak-anak Indonesia.

 

Anak adalah permata keluarga. Anak adalah  Qurrota A’yun (penyejuk pandangan). Kehadirannya selalu membawa kebahagiaan dan keceriaan di tengah keluarga. Bisa kita bayangkan bila di dunia ini tidak ada anak-anak, dunia hanya diisi oleh orang dewasa. Atau rumah yang dihuni hanya orang-orang dewasa. Sepi, monoton, ahh sangat membosankan!

 

Anak adalah amanah sekaligus aset berharga bagi kedua orang tuanya, yang kelak akan dipertanggung-jawabkan. Tak ada kata memiliki yang mutlak. Kita seolah-olah memiliki anak kita, membesarkannya, mendidiknya, memberi kehidupan yang layak, bukanlah cukup alasan bagi kita untuk serta merta berbuat kepada mereka sesuai dengan keinginan kita.

 

Memang di Hari Anak Nasional yang cuma sehari ini, belum bisa menjanjikan terpenuhinya hak-hak anak sehingga mendorong kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia. Namun setidaknya mengingatkan hati dan pikiran kita untuk selalu memperbaiki diri untuk menjadi orang tua yang Allah harapkan sekaligus yang anak-anak kita banggakan. Tidak mudah memang. Karena disadari selain sebagai orang tua kitapun mempunyai berbagai eksistensi lain yang juga menuntut pengorbanan.

 

Jadi tak ada salahnya, di hari ini, kita duduk, merenung dan menjawab suara-suara hati yang selama ini dibungkam. Sadari kekurangan diri dari awal kita menjadi orang tua. Azamkan dalam diri untuk terus memberikan yang terbaik seperti yang Allah perintahkan. Lalu bangkit dan berdiri mengejar ketertinggalan kita. Peluklah hati anak-anak kita dan ucapkan maaf dengan penuh cinta. Mari kita ajak berbicara harapan dan cita-cita. Biarlah mereka sadari dan bersyukur karena mereka adalak anak yang paling berbahagia.

 

Hari Anak Nasional cukup diperingati setahun, namun hari untuk anak-anak setiap hari, setiap detik, setiap saat.

 

Every day I Love You coz Allah. Sun sayang buat Syamil ar-Rayyan Fikri. Maafkan ummi dan abi  yang masih belum bisa menjadi orang tuamu yang baik.

 

Hari ini memang tak ada kado atau balon-balon atau kue sebagai tanda perayaan. Namun hari ini berjuta doa dan harap tercurah untukmu. Selamat Hari Anak, Anakku sayang.

“Jilbab Hati”

Pernah dengar jilbab hati atau menjilbabi hati? Pernyataan ini  kian santer terdengar dari beberapa rekan kita atau opini para artis yang lebih memilih menjilbabi hati daripada menjilbabi auratnya? Lalu bagaimanakah Islam menanggapi hal ini?

Namun, sebelumnya saya ingin mengucapkan :

 

SELAMAT bagi para muslimah yang telah memutuskan untuk memulai semua ibadahnya dengan berjilbab.

 

Islam adalah agama satu-satu yang mengatur semua aspek kehidupan termasuk  wanita. Wanita disini adalah muslimah, yaitu wanita islam yang ridha hidupnya diatur oleh Al Quran dan Sunnah Rasul.   

 

Islam mewajibkan muslimah yang sudah akil baligh untuk menutup seluruh auratnya. Seperti Firman Allah dalam QS. An Nur:31 yang berbunyi:

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya…..”

 

Ketika muslimah dianggap sebagai perhiasan, maka ia harus mampu menjaga kilaunya agar tetap suci kecuali kepada suaminya. Yaitu dengan jilbab. Jilbab atau hijab diwajibkan Allah bagi para muslimah semata-mata dalam upaya menjaga kehormatannya dan menjauhkan mereka dari fitnah atau musibah.

Lanjut Baca »

Apa yang ada dalam pikiran kita tentang cantik?

Tubuh proporsional dengan wajah sempurna. Kulit putih, hidung mancung, bermata indah, bibir tipis merah merona, bulu mata yang lentik dan panjang, alis seperti semut yang berbaris teratur, rambut hitam panjang yang berkilau mirip model-model wanita yang sering kita saksikan dilayar kaca TV pada iklan kosmetik. Atau wajah yang lembut, mata yang teduh, bibir dimana keluar kata-kata penuh kebaikan, tangan yang hangat bertabur cinta. Atau kedua-duanya.

 

Mungkin idealnya adalah seperti itu. Namun Allah Yang Maha Adil menciptakan wanita dengan ciri khas, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak semua wanita dianugerahi wajah cantik sempurna. Ada banyak wanita yang berwajah pas-pasan. Sekalipun memakai kosmetik yang sangat mahal tetap tidak banyak membantu membuat wajahnya menjadi cantik, Lanjut Baca »

Kiblat Jiwa

Ketika ku harus sholat menghadap kiblat, ku tahu aku sedang memandang lurus Ka’bah. Bukankah ia merupakan konduktor terdasyat di muka bumi. Allah mewajibkan seluruh umat sholat menghadap kiblat bukan tanpa tujuan. Allah mewajibkan orang-orang yang berhaji dan umroh untuk mengelilingi Ka’bah yang  berlawanan dengan arah jarum jam, berlapis-lapis juga bukan tanpa tujuan. Bukankah berdoa di sekeliling Ka’bah adalah mustajab. Bergetarnya hati, menangis haru bukanlah tanpa alasan. Deraian air mata dan jeritan hati bukanlah tanda tiada arti. di sana, Di Ka’bah pusaran gelombang elektromagnetik menghantarkan jutaan rasa dan asa tumpah ruah demi satu ketaatan.

 

berharap saja, jiwa kotor ini terasa luruh, berharap noda-noda dosa yang melekat didiri tersapu bersih. di sana, di pusaran Ka’bah ataupun hanya dibentangan sajadah ini terhampar segala rasa dan asa. Kekuatan yang tidak pernah dimengerti itu hadir dan nyata, membawa semangat untuk terus memompa kisah-kisah dengan amalan yang baik. Berdiri teguh, berjalan mengelilinginya atau sekedar berlari mengitari Ka’bah membawa kita kedalam pusaran energi terkuat, doa-doa diijabah karena disini tempat sinyal terkuat yang dapat dirasa sampai langit ketujuh. subhanallah. Lanjut Baca »

Motor Bagi Suamiku

Dimana-mana di kampung di kota….,adalah tidak terlalu berlebihan bila kita meminjam sebagian lirik lagu Peuyeum Bandung untuk disandingkan dengan objek yang satu ini. Motor. Ya sepeda motor. Kemanapun sejauh mata memandang, maka kita akan melihatnya. Kendaraan roda dua ini semakin saja turut memadati jalan-jalan, seperti jalan raya, jalan komplek perumahan sampai daerah pelosok sekalipun.

Bodynya yang hemat sangat  cocok bagi mereka yang sering mobile sendiri dan pasti sangat pas untuk diajak nyelap-nyelip. Tak heran kini motor sudah merupakan “lagu wajib” bagi setiap insan baik bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan anak-anak. Lihat saja sering kita jumpai suami,istri dan anak-anaknya mempunyai motor sendiri-sendiri. Bayangkan kalo anak-anaknya ada empat, berarti sudah ada enam motor yang harus diparkirkan di rumahnya. Alih-alih selain di garasi, kini motor sudah tidak malu-malu lagi bertengger di ruang tamu,ruang tengah, dapur bahkan ruang tidur bagi mereka yang saking sayang sama motornya, dan tentu saja bagi mereka yang hanya mengontrak satu ruangan saja.apa terlalu berlebihan ya?

Ahh belum tentu juga, mengingat motor kini begitu mudah dipinang. Cukup hanya dengan beberapa ratus rupiah saja motor idaman sudah ditangan. Bahkan bagi mereka Sang Pencinta motor tak usah berpikir panjang untuk mendua alias mempunyai MIL (Motor Idaman Lain).

Bagaimana tidak, tradisi kreditan motor ini sudah hal yang lumrah laiknya kreditan perabot rumah tangga. Proses yang mudah dan cepat membuat semakin banyak orang dapat memiliki kendaraan ini, termasuk orang yang dalam keterbatasan dana, akan diberikan kemudahan seperti lama angsuran dan besarnya DP.tak apalah yang penting bisa tampil keren, toh gak ada yang tahukan? Tentu saja tak usah bilang siapa-siapa.

Tapi kesemuanya tidak berlaku bagi suami tercintaku. Sikapnya yang dingin kepada motor membuat harapan untuk dibonceng mesra olehnya harus dikubur dalam-dalam. Tak ada motor yang membuatnya jatuh hati walaupun model yang semakin variatif tetap saja tak berkutik. Tapi tak apalah, asal dia harus memboncengku dengan Xenia silvernya,insyaAllah.

Lain halnya dengan Syamil anak kami. Kecintaannya pada motor tak usah diragukan lagi walaupun usianya baru saja diawal dua tahunan. Oton sebutannya, maklum saja masih cadel. Setiap hari dia bertengger di atas motor pamannya sambil mencoba menyapa orang-orang yang melintas di depannya, bahkan dengan tangan mungilnya yang terampil tak canggung untuk mencuci lalu mengelapnya dengan telaten.  

Yess! Mudah-mudahan dia akan memboncengku kelak dewasa kau nanti.InsyaAllah!

Negeri ini memang negeri yang sudah tidak aneh lagi. Betapa tidak, negeri ini sering tayang dilayar kaca. Negeri sagala aya itulah julukannya. Semuanya ada disini. Baik buruk negeri ini sudah menjadi rahasia bersama.

 

Negeri yang saya tengok setiap harinya memang menyisakan banyak peristiwa kecil dan besar. Seperti hari ini, kunyalakan TV untuk menemani santap siangku, dengan harap bertemu kembali dengan lembaran kisah yang mungkin saja membuatku merasa lebih bersemangat untuk menghadapi hari. Namun apa yang kusaksikan. Seorang ibu yang menangis karena jerih payahnya mengantri minyak tanah tidak membuahkan hasil. Sambil menggendong  putrinya ia berharap untuk mendapatkan beberapa liter saja. Janji pemerintah untuk memberikan minyak tanah dengan harga diskon membuat dirinya sanggup menempuh perjalanan jauh. Namun tak ada setetes pun. Yang ada hanya tetesan keringat tanda rasa lelah karena dia sudah berjam-jam menunggu menghadang terik mentari yang sedari dulu membakar kulitnya, maklumlah dia adalah keluarga nelayan. Suaminya adalah nelayan yang sudah tidak bisa pergi lagi melaut karena tidak ada bahan bakarnya yaitu minyak tanah. Hatinya hancur merasa dikhianati. Himpitan ekonomi yang sudah dari dulu mendera hidupnya kini semakin menjerat habis. Benteng kesabarannya mulai roboh, karena kebahagiaannya telah diambil, kehidupannya telah dirampas. Yang sebenarnya tidak terlalu muluk, asal kebutuhan hariannya tercukupi walaupun hanya dengan makan tiga kali sehari,itupun sudah sangat istimewa.

 

Ahh ibu yang malang. Tak terasa air mata saya pun tumpah. Hati saya terasa perih. Sesaat saya bisa merasakan kepedihannya walaupun tidaklah sama, namun saya sempat merasakan rasa sakit itu. Bukankah kita sama-sama wanita. Wanita yang eksistensinya sangat dibutuhkan keluarga dan negara. Oleh  karena kita harus tetap kuat dan berani melewati sandungan hidup. Sesaat aku larut dalam kisah seharianku yang bergelut melawan cobaan hidup. Ditengah melonjaknya semua bahan pokok, tetaplah aku harus menyediakan makanan bergizi untuk keluargaku. Mencatat dan menghitung pengeluaran harian agar tidak kedodoran diakhir bulan. Tentunya tidak seberapa bagimu. Mungkin hidupku tidak sepahit dan sekeras hidupmu. Namun bukankah Allah membebankan cobaan sesuai dengan kemampuannya.

 

Saya tengok kedaerah sebelahnya, ratusan orang berdemo menuntut kepala desanya untuk turun tahta, karena telah terbukti mencabuli gadis desanya. Video amoralnya beredar luas diwarga desa. Alhasil wargapun tersulut. Kemarahan warga tak bisa dibendung lagi melihat video rekaman pribadi Sang Kepala Desa itu. Setelah diusut ternyata perbuatan cabulnya itu bukanlah pertama kali. Ihh jijik banget! Lanjut Baca »