Negeri ini memang negeri yang sudah tidak aneh lagi. Betapa tidak, negeri ini sering tayang dilayar kaca. Negeri sagala aya itulah julukannya. Semuanya ada disini. Baik buruk negeri ini sudah menjadi rahasia bersama.
Negeri yang saya tengok setiap harinya memang menyisakan banyak peristiwa kecil dan besar. Seperti hari ini, kunyalakan TV untuk menemani santap siangku, dengan harap bertemu kembali dengan lembaran kisah yang mungkin saja membuatku merasa lebih bersemangat untuk menghadapi hari. Namun apa yang kusaksikan. Seorang ibu yang menangis karena jerih payahnya mengantri minyak tanah tidak membuahkan hasil. Sambil menggendong putrinya ia berharap untuk mendapatkan beberapa liter saja. Janji pemerintah untuk memberikan minyak tanah dengan harga diskon membuat dirinya sanggup menempuh perjalanan jauh. Namun tak ada setetes pun. Yang ada hanya tetesan keringat tanda rasa lelah karena dia sudah berjam-jam menunggu menghadang terik mentari yang sedari dulu membakar kulitnya, maklumlah dia adalah keluarga nelayan. Suaminya adalah nelayan yang sudah tidak bisa pergi lagi melaut karena tidak ada bahan bakarnya yaitu minyak tanah. Hatinya hancur merasa dikhianati. Himpitan ekonomi yang sudah dari dulu mendera hidupnya kini semakin menjerat habis. Benteng kesabarannya mulai roboh, karena kebahagiaannya telah diambil, kehidupannya telah dirampas. Yang sebenarnya tidak terlalu muluk, asal kebutuhan hariannya tercukupi walaupun hanya dengan makan tiga kali sehari,itupun sudah sangat istimewa.
Ahh ibu yang malang. Tak terasa air mata saya pun tumpah. Hati saya terasa perih. Sesaat saya bisa merasakan kepedihannya walaupun tidaklah sama, namun saya sempat merasakan rasa sakit itu. Bukankah kita sama-sama wanita. Wanita yang eksistensinya sangat dibutuhkan keluarga dan negara. Oleh karena kita harus tetap kuat dan berani melewati sandungan hidup. Sesaat aku larut dalam kisah seharianku yang bergelut melawan cobaan hidup. Ditengah melonjaknya semua bahan pokok, tetaplah aku harus menyediakan makanan bergizi untuk keluargaku. Mencatat dan menghitung pengeluaran harian agar tidak kedodoran diakhir bulan. Tentunya tidak seberapa bagimu. Mungkin hidupku tidak sepahit dan sekeras hidupmu. Namun bukankah Allah membebankan cobaan sesuai dengan kemampuannya.
Saya tengok kedaerah sebelahnya, ratusan orang berdemo menuntut kepala desanya untuk turun tahta, karena telah terbukti mencabuli gadis desanya. Video amoralnya beredar luas diwarga desa. Alhasil wargapun tersulut. Kemarahan warga tak bisa dibendung lagi melihat video rekaman pribadi Sang Kepala Desa itu. Setelah diusut ternyata perbuatan cabulnya itu bukanlah pertama kali. Ihh jijik banget!
Di tengah warganya berjuang menghadapi hidup yang semakin hari semakin keras, berjuang sekedar untuk menyambung hidup, bukannya memberikan keteladanan namun sibuk mengumbar nafsu syahwatnya. Na’udzu billah.
Saya bergeser di daerah sebelahnya. Ribuan orang tengah berdemo menuntut keadilan, karena kehidupannya telah hilang. rumah, sawah, kebun, kantor, pabrik dan harta benda lainnya hancur ditelan lumpur panas bercampur gas. Hidupnya berubah drastis. Tinggal dipenampungan yang jauh dari nyaman, tidak punya pekerjaan, membuat sebagian orang kehilangan kesehatan fisik dan mental. Sebagian warga mengemis dipinggir jalan memohon kepedulian kepada masyarakat yang melintas atau sekedar menonton tragedi dari dekat. Sebagian orang lagi berjuang melalui hukum karena daerahnya tidak termasuk peta penggantian. Setiap saat mereka menjerit meminta keadilan atas bencana yang menimpa mereka. Entah ini salah siapa? Yang jelas mereka telah kehilangan harapan untuk hidup seperti dulu. Menatap ketidak pastian hidup. Mengerikan!
Saya berlari kearah utara. Bentokan antar masyarakat masih belum juga berakhir. Dua kubu pendukung gubernur ini terus berjuang antara hidup dan mati agar Sang Gubernur yang dielu-elukannya bisa naik tahta. Sekalipun pada saatnya nanti, saat sang gubernur pujaan berkuasa belum tentu kehidupannya menjadi lebih baik.
Dua kubu ini terus bertikai karena menilai bahwa pihaknyalah yang menang. Ini berawal dari dugaan adanya ketidak adilan dalam perhitungan suara yang berujung di Mahkamah Agung yang keputusannya bertentangan dengan keputasan Menteri Dalam Negeri. Sehingga kedua calon gubernur berhak jadi gubernur. Alhasil rebutan kedudukan ini berjalan sengit, dan sampai sekarang bentrokan yang menelan korban antar masing-masing kubu itu masih berlangsung. Konflik horizontal ini sempat membuat perekonomian lumpuh, suasana pun semakin mencekam. Begitulah kalau aroma kekuasaan membius banyak orang.
(koq bisa ya,dua-duanya menang? )
Saya bergeser ke arah timurnya. Seorang kepala desa yang diajukan kepolisi oleh beberapa ulama setempat karena dianggap menghina Nabi Muhammad, yang kini aroma penghinaan ini semakin sensitif. Semenjak Wilders anggota parlemen Belanda menayangkan film yang berisi hinaan terhadap Al-Quran dan Hadits juga hinaan biadab kepada Nabi Muhammad saw, banyak kalangan ormas islam berdemo tanda geram dengan hinaan yang sering dilontarkan kaum teroris.
Sebelum emosi ini terpancing dalam, lalu aku berbelok arah menuju arar barat. Disana tengah digelar pesta demokrasi cukup bresar., Hajatan besar yang akan menentukan masa depan warga daerah setempat, apalagi kalau bukan pilkada. Janji-janji diumbar demi mendapatkan kursi gubernur dan wakil. Ratusan milyar dialirkan agar kampanye semakin seru dan meriah. Hajatan penting ini seolah meniadakan pentingnya perbaikan jalan yang rusak yang telah meminta banyak korban atau menutup mulut-mulut yang tengah kelaparan atau perbaikan sekolah-sekolah yang rusak parah yang berhasil melukai banyak siswanya, dan buanyak lagi yang tak sanggup disebut satu persatu.
Akhirnya tayangan tentang negeri ini ditutup, begitu pula santap siangku yang terasa pahit. Berganti dengan tayangan negeri lain entah berantah. Negeri yang sangat berbeda dengan negeri tadi. Masyarakat yang membicarakan tren baju dan rambut. Masyarakat yang menganggap ketenaran diatas segalanya. Masyarakat yang mengumbar syahwat. Tidak ada lagi tangisan karena kelaparan, tak ada antrian minyak tanah, tak ada wajah-wajah sedih, yang ada hanya wajah-wajah ceria nan menawan berbalut baju indah bahkan ada beberapa diantaranya tak ingin berbaju. Yap, inilah negeri laknat.
Saya matikan saja layar itu dan bergegas mengambil wudlu untuk shalat dzuhur. Rakaat pertama terbayang tangisan ibu yang tadi . wajahnya menghias doa-doaku. Berjuta doa untukmu wahai pahlawan negeriku. Jangan aneh, toh negeri kita masih acak adut. Jangan bersedih, engkau masih punya Allah yang takkan pernah bosan mendengarkan keluh kesahmu. Pergilah Pada-Nya biarkan Dia menuntun kisahmu. Wallahu ‘alam.