Dimana-mana di kampung di kota….,adalah tidak terlalu berlebihan bila kita meminjam sebagian lirik lagu Peuyeum Bandung untuk disandingkan dengan objek yang satu ini. Motor. Ya sepeda motor. Kemanapun sejauh mata memandang, maka kita akan melihatnya. Kendaraan roda dua ini semakin saja turut memadati jalan-jalan, seperti jalan raya, jalan komplek perumahan sampai daerah pelosok sekalipun.
Bodynya yang hemat sangat cocok bagi mereka yang sering mobile sendiri dan pasti sangat pas untuk diajak nyelap-nyelip. Tak heran kini motor sudah merupakan “lagu wajib” bagi setiap insan baik bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan anak-anak. Lihat saja sering kita jumpai suami,istri dan anak-anaknya mempunyai motor sendiri-sendiri. Bayangkan kalo anak-anaknya ada empat, berarti sudah ada enam motor yang harus diparkirkan di rumahnya. Alih-alih selain di garasi, kini motor sudah tidak malu-malu lagi bertengger di ruang tamu,ruang tengah, dapur bahkan ruang tidur bagi mereka yang saking sayang sama motornya, dan tentu saja bagi mereka yang hanya mengontrak satu ruangan saja.apa terlalu berlebihan ya?
Ahh belum tentu juga, mengingat motor kini begitu mudah dipinang. Cukup hanya dengan beberapa ratus rupiah saja motor idaman sudah ditangan. Bahkan bagi mereka Sang Pencinta motor tak usah berpikir panjang untuk mendua alias mempunyai MIL (Motor Idaman Lain).
Bagaimana tidak, tradisi kreditan motor ini sudah hal yang lumrah laiknya kreditan perabot rumah tangga. Proses yang mudah dan cepat membuat semakin banyak orang dapat memiliki kendaraan ini, termasuk orang yang dalam keterbatasan dana, akan diberikan kemudahan seperti lama angsuran dan besarnya DP.tak apalah yang penting bisa tampil keren, toh gak ada yang tahukan? Tentu saja tak usah bilang siapa-siapa.
Tapi kesemuanya tidak berlaku bagi suami tercintaku. Sikapnya yang dingin kepada motor membuat harapan untuk dibonceng mesra olehnya harus dikubur dalam-dalam. Tak ada motor yang membuatnya jatuh hati walaupun model yang semakin variatif tetap saja tak berkutik. Tapi tak apalah, asal dia harus memboncengku dengan Xenia silvernya,insyaAllah.
Lain halnya dengan Syamil anak kami. Kecintaannya pada motor tak usah diragukan lagi walaupun usianya baru saja diawal dua tahunan. Oton sebutannya, maklum saja masih cadel. Setiap hari dia bertengger di atas motor pamannya sambil mencoba menyapa orang-orang yang melintas di depannya, bahkan dengan tangan mungilnya yang terampil tak canggung untuk mencuci lalu mengelapnya dengan telaten.
Yess! Mudah-mudahan dia akan memboncengku kelak dewasa kau nanti.InsyaAllah!